Teks Editorial
Masyarakat Indonesia khususnya pecinta
sepak bola tanah air merasa dibodohi oleh drama Luis Milla dan PSSI. Bagaimana
tidak, sebelumnya pada akhir Agustus lalu federasi sepakbola tanah air itu
menyatakan akan memperpanjang kontrak Luis Milla, pelatih Timnas U-23 yang
kontraknya habis setelah Asian Games selesai. Setelah mendapat kabar bahwa
kontrak pelatih asal Spanyol itu diperpanjang, pecinta sepak bola tanah air
mulai menaruh harapan pada Timnas Indonesia karena dirasa pola permainan timnas
setelah ditukangi Luis Milla mulai berkembang dibandingkan dengan pola
permainan yang dulu. Apalagi dalam waktu dekat ini sang Garuda akan unjuk gigi
dalam piala AFF 2018 yang akan mulai digelar pada bulan November. Oleh karena
itu, para pahlawan sepak bola tanah air harus mulai dipersiapkan jauh-jauh hari
agar saat berkompetisi bisa menunjukkan hasil yang terbaik. Namun, sampai uji
coba timnas senior yang ketiga, sang maestro yang diharap-harapkan untuk datang
tidak juga menampakkan batang hidung nya. Bima Sakti, sang asisten pelatih Luis Milla pada saat Asian Games lalu
pun dipilih sebagai Head Coach sementara.
Namun, harapan dari penggemar timnas pun mulai cerah kembali setelah ada kabar
dari exco dan Ketua Umum PSSI bahwa negoisasi kontrak antara PSSI dan Luis
Milla berbuah hasil yang positif dan Edy Rahmayadi selaku Ketua Umum PSSI saat
diwawancarai mengatakan bahwa Luis Milla akan datang ke Indonesia karena sudah deal dengan agen maestro asal Spanyol
itu.
Harapan
pun berubah menjadi keraguan terhadap federasi. Tiba-tiba saja setelah berakhirnya
rapat exco PSSI terakhir, PSSI mengumumkan bahwa akan melepas Luis Milla dan
menjadikan Bima Sakti menjadi juru taktik utama timnas senior. Hal ini sangat
membingungkan mengingat janji dari PSSI bahwa Luis Milla yang berada di Spanyol
akan datang ke tanah air. Dan juga banyak kejanggalan yang terjadi sebelum
hasil rapat exco PSSI diumumkan. Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi, yang
selalu berkomunikasi intensif dengan sang pelatih menyatakan bahwa sebenarnya
Milla ingin sekali kembali ke Indonesia dan tinggal menunggu tiket pesawat dari
PSSI. Seakan-akan para petinggi PSSI
sudah merencanakan untuk tidak memperpanjang kontrak dari Luis Milla namun
dengan kedok bahwa Luis Milla tidak ingin bertahan lebih lama lagi di
Indonesia. Hal ini adalah bukti dari ketidakprofesionalan dari PSSI. Keburukan
dari PSSI diperkuat dengan cuitan akun media sosial Luis Milla yang menyatakan
bahwa manajemen dari federasi sangat tidak profesional dengan memutuskan
kontrak dengan sepihak. Hal ini sangat mungkin berkaitan dengan adanya isu
bahwa gaji Luis Milla menunggak beberapa bulan. Isu itu dibantah oleh Ketum
PSSI namun dibenarkan oleh anggota exco PSSI.
Dengan
adanya kasus seperti ini, tentu kita tak bisa menaruh harapan banyak terhadap
kinerja dari organisasi sepak bola tanah air. Kita hanya bisa berharap bahwa
induk dari sepakbola Indonesia bisa memperbaiki kualitas dan citranya yang kadung
buruk di mata masyarakat. Dan kita harus ikhlas dengan kepergian dari Luis
Milla dan mulai menaruh kepercayaan pada sang alumni primavera, Bima Sakti. Mungkin alasan PSSI membuat kasus ini agar kita harus kembali
percaya dengan pelatih lokal dan tidak selalu bergantung dengan pelatih asing.
Dan juga percaya bahwa PSSI tidak pernah kekurangan uang kasnya untuk membayar
para pelatih.

Wauww!
BalasHapus👍
BalasHapus