300x250 AD TOP

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Kamis, 25 Oktober 2018

Tagged under:

Dibalik Drama Luis Milla



Teks Editorial

 Masyarakat Indonesia khususnya pecinta sepak bola tanah air merasa dibodohi oleh drama Luis Milla dan PSSI. Bagaimana tidak, sebelumnya pada akhir Agustus lalu federasi sepakbola tanah air itu menyatakan akan memperpanjang kontrak Luis Milla, pelatih Timnas U-23 yang kontraknya habis setelah Asian Games selesai. Setelah mendapat kabar bahwa kontrak pelatih asal Spanyol itu diperpanjang, pecinta sepak bola tanah air mulai menaruh harapan pada Timnas Indonesia karena dirasa pola permainan timnas setelah ditukangi Luis Milla mulai berkembang dibandingkan dengan pola permainan yang dulu. Apalagi dalam waktu dekat ini sang Garuda akan unjuk gigi dalam piala AFF 2018 yang akan mulai digelar pada bulan November. Oleh karena itu, para pahlawan sepak bola tanah air harus mulai dipersiapkan jauh-jauh hari agar saat berkompetisi bisa menunjukkan hasil yang terbaik. Namun, sampai uji coba timnas senior yang ketiga, sang maestro yang diharap-harapkan untuk datang tidak juga menampakkan batang hidung nya. Bima Sakti, sang asisten  pelatih Luis Milla pada saat Asian Games lalu pun dipilih sebagai Head Coach sementara. Namun, harapan dari penggemar timnas pun mulai cerah kembali setelah ada kabar dari exco dan Ketua Umum PSSI bahwa negoisasi kontrak antara PSSI dan Luis Milla berbuah hasil yang positif dan Edy Rahmayadi selaku Ketua Umum PSSI saat diwawancarai mengatakan bahwa Luis Milla akan datang ke Indonesia karena sudah deal dengan agen maestro asal Spanyol itu.

          Harapan pun berubah menjadi keraguan terhadap federasi. Tiba-tiba saja setelah berakhirnya rapat exco PSSI terakhir, PSSI mengumumkan bahwa akan melepas Luis Milla dan menjadikan Bima Sakti menjadi juru taktik utama timnas senior. Hal ini sangat membingungkan mengingat janji dari PSSI bahwa Luis Milla yang berada di Spanyol akan datang ke tanah air. Dan juga banyak kejanggalan yang terjadi sebelum hasil rapat exco PSSI diumumkan. Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi, yang selalu berkomunikasi intensif dengan sang pelatih menyatakan bahwa sebenarnya Milla ingin sekali kembali ke Indonesia dan tinggal menunggu tiket pesawat dari PSSI. Seakan-akan  para petinggi PSSI sudah merencanakan untuk tidak memperpanjang kontrak dari Luis Milla namun dengan kedok bahwa Luis Milla tidak ingin bertahan lebih lama lagi di Indonesia. Hal ini adalah bukti dari ketidakprofesionalan dari PSSI. Keburukan dari PSSI diperkuat dengan cuitan akun media sosial Luis Milla yang menyatakan bahwa manajemen dari federasi sangat tidak profesional dengan memutuskan kontrak dengan sepihak. Hal ini sangat mungkin berkaitan dengan adanya isu bahwa gaji Luis Milla menunggak beberapa bulan. Isu itu dibantah oleh Ketum PSSI namun dibenarkan oleh anggota exco PSSI.

          Dengan adanya kasus seperti ini, tentu kita tak bisa menaruh harapan banyak terhadap kinerja dari organisasi sepak bola tanah air. Kita hanya bisa berharap bahwa induk dari sepakbola Indonesia bisa memperbaiki kualitas dan citranya yang kadung buruk di mata masyarakat. Dan kita harus ikhlas dengan kepergian dari Luis Milla dan mulai menaruh kepercayaan pada sang alumni primavera, Bima Sakti. Mungkin alasan  PSSI membuat kasus ini agar kita harus kembali percaya dengan pelatih lokal dan tidak selalu bergantung dengan pelatih asing. Dan juga percaya bahwa PSSI tidak pernah kekurangan uang kasnya untuk membayar para pelatih.
         

2 komentar: